BREAKING NEWS

TANGERANG SELATAN

NASIONAL

TANGERANG RAYA

Saturday, September 5, 2026

Gerakan Pemuda Tangerang Soroti Pelantikan Forum Pelanggan Tirta Benteng

Gerakan Pemuda Tangerang Soroti Pelantikan Forum Pelanggan Tirta Benteng


Tangerang Raya, Korantangsel.com — Gerakan Pemuda Tangerang mempertanyakan transparansi dan independensi dalam pelantikan Forum Pelanggan Perumda Tirta Benteng Kota Tangerang. Forum yang seharusnya menjadi wadah representasi pelanggan tersebut dinilai jangan sampai hanya menjadi formalitas tanpa benar-benar menyuarakan kepentingan masyarakat pengguna layanan air.


Ketua Gerakan Pemuda Tangerang, Riski, mengatakan pihaknya mempertanyakan proses pelantikan kepengurusan Forum Pelanggan Tirta Benteng yang dinilai belum diketahui secara luas oleh pelanggan.


“Kami mempertanyakan transparansinya. Pelantikan forum pelanggan ini terkesan tidak diketahui oleh pelanggan yang sebenarnya. Sepanjang yang kami lihat, tidak ada proses pemberitahuan secara terbuka kepada publik mengenai siapa saja yang menjadi pengurus Forum Pelanggan yang baru,” ujar Riski. 


Menurut Pemuda asal Batuceper tersebut, persoalan tersebut penting karena forum pelanggan pada hakikatnya merupakan wadah yang harus merepresentasikan kepentingan pelanggan. Karena itu, publik berhak mengetahui bagaimana proses pembentukan forum, mekanisme pemilihan pengurus, serta siapa saja yang ditunjuk menjadi bagian dari kepengurusan.


“Pertanyaannya sederhana, apakah nama-nama yang tercantum dalam kepengurusan tersebut benar-benar merupakan pelanggan Tirta Benteng? Karena sejatinya yang mempunyai kepentingan dan hak untuk berada di dalam Forum Pelanggan adalah pelanggan itu sendiri. Jangan sampai ada forum yang mengatasnamakan pelanggan, tetapi pelanggan justru tidak mengetahui keberadaannya,” tegasnya.


Pertanyakan Fungsi dan Independensi Forum


Gerakan Pemuda Tangerang juga mempertanyakan fungsi serta independensi Forum Pelanggan dalam memperjuangkan kepentingan masyarakat.

Riski menegaskan, forum pelanggan tidak boleh hanya menjadi simbol hubungan antara perusahaan dengan masyarakat. Forum harus mempunyai keberanian untuk menyampaikan kritik ketika terdapat persoalan pelayanan.


“Forum pelanggan bukan hanya simbol dan bukan sekadar formalitas. Forum ini harus benar-benar menjadi ruang bagi masyarakat untuk menyampaikan keluhan, kritik dan aspirasi terkait pelayanan air. Kalau ada pelayanan yang bermasalah, forum harus berani menyampaikannya,” katanya.


Ia menambahkan, Forum Pelanggan seharusnya mampu menjadi jembatan komunikasi dua arah antara pelanggan dengan Perumda Tirta Benteng.


“Forum ini harus menjadi jembatan komunikasi antara pelanggan dengan perusahaan daerah air minum. Jangan sampai ketika ada keluhan masyarakat, forum justru diam atau bahkan terkesan membungkam keluhan pelanggan. Justru forum harus berada di depan untuk menyampaikan apa yang dirasakan masyarakat,” ujar Riski.


Menurutnya, berbagai persoalan yang menyangkut pelayanan air bersih harus menjadi perhatian serius, mulai dari keluhan pelanggan, kualitas dan kontinuitas pelayanan, tekanan air, respons terhadap pengaduan, hingga berbagai kebijakan yang berkaitan langsung dengan pelanggan.


Minta Mekanisme Kerja Dibuka ke Publik


Selain mempertanyakan proses pembentukan, Gerakan Pemuda Tangerang juga meminta agar mekanisme kerja Forum Pelanggan dilakukan secara transparan.


Riski mengatakan, masyarakat harus mengetahui bagaimana forum tersebut menampung aspirasi, apa saja program kerjanya, serta bagaimana tindak lanjut terhadap berbagai keluhan pelanggan.


“Proses kerja forum juga harus transparan. Mekanisme penampungan aspirasi harus jelas, program kerjanya harus diketahui pelanggan dan hasil evaluasinya juga harus disampaikan kepada masyarakat. Jangan setelah dilantik kemudian tidak ada lagi aktivitas dan masyarakat tidak tahu apa yang dikerjakan,” katanya.


Ia menilai transparansi menjadi hal penting agar Forum Pelanggan tidak kehilangan legitimasi di mata masyarakat.


“Kalau memang forum ini dibentuk untuk pelanggan, maka pelanggan harus dilibatkan. Jangan hanya nama pelanggan yang digunakan, tetapi suara pelanggan tidak pernah benar-benar didengar,” sambungnya.


Soroti Kebutuhan Dewan Pengawas


Di sisi lain, Riski menyebut ada kebutuhan yang menurutnya jauh lebih mendesak untuk diperhatikan, yakni penambahan jumlah anggota Dewan Pengawas Perumda Tirta Benteng.

Menurutnya, dengan jumlah pelanggan yang disebut telah mencapai sekitar 160 ribu pelanggan, diperlukan penguatan fungsi pengawasan agar tata kelola perusahaan dan pelayanan kepada masyarakat dapat berjalan lebih optimal.


“Bagi kami, kebutuhan yang mendesak hari ini adalah penambahan jumlah anggota Dewan Pengawas PDAM. Dengan jumlah pelanggan yang sudah mencapai sekitar 160 ribu, menurut kami sudah layak ada penguatan struktur pengawasan. Jangan sampai jumlah pelanggan terus bertambah, tetapi fungsi pengawasan tidak diperkuat,” ungkap Riski.


Ia mengatakan Dewan Pengawas memiliki posisi penting dalam memastikan perusahaan daerah berjalan sesuai prinsip tata kelola yang baik, termasuk dalam aspek pelayanan, kinerja, transparansi dan kepentingan masyarakat.


“Jumlah pelanggan itu bukan angka kecil. Ada ratusan ribu masyarakat yang menggantungkan kebutuhan airnya kepada perusahaan daerah. Maka pengawasan juga harus sebanding dengan besarnya tanggung jawab pelayanan tersebut,” katanya.


Jangan Jadikan Forum Sekadar Seremonial


Gerakan Pemuda Tangerang menegaskan kritik tersebut bukan ditujukan untuk menolak keberadaan Forum Pelanggan, melainkan mendorong agar forum tersebut benar-benar menjalankan fungsi sebagaimana mestinya.


“Kami tidak anti terhadap Forum Pelanggan. Justru kami ingin forum ini diperkuat dan benar-benar independen. Jangan sampai pelantikannya ramai, tetapi setelah itu tidak ada suara ketika pelanggan menghadapi persoalan,” ujar Riski.


Ia meminta Perumda Tirta Benteng membuka ruang komunikasi dan partisipasi publik yang lebih luas dalam pengelolaan pelayanan air bersih.


“Jangan jadikan Forum Pelanggan sebagai pajangan atau sekadar pelengkap struktur. Pelanggan membutuhkan wadah yang benar-benar berani berbicara, berani mengkritik dan berani memperjuangkan kepentingan masyarakat,” pungkasnya.


Gerakan Pemuda Tangerang juga mendorong agar ke depan proses pembentukan maupun evaluasi Forum Pelanggan dilakukan secara terbuka sehingga masyarakat dapat mengetahui siapa yang menjadi representasi mereka dan sejauh mana forum tersebut mampu memberikan manfaat nyata bagi pelanggan. (Tim)

Wednesday, August 26, 2026

Berlangsung Meriah, Warga Kalipasir Gelar Arak Arakan Perahu Saat Maulid Nabi Muhammad SAW

Berlangsung Meriah, Warga Kalipasir Gelar Arak Arakan Perahu Saat Maulid Nabi Muhammad SAW
Berlangsung Meriah, Warga Kalipasir Gelar Arak Arakan Perahu Saat Maulid Nabi Muhammad SAW 

Tangerang Raya, Korantangsel.com - Dilakukan secara turun temurun, Dalam rangka memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW 1448 H warga Kalipasir, Sukasari, Kota Tangerang, Banten gelar arak-arakan perahu sebagai bentuk rasa syukur dan kecintaan, pada Selasa (25/8/2026)


Acara yang diselenggarakan oleh PHBU Masjid Jami Kalipasir ini dimulai tepat pukul 07.00 WIB dari titik kumpul Masjid Agung Al - Ittihad Kota Tangerang, Sejumlah perahu hias dengan ornamen Islami, bendera, dan umbul-umbul dilepas secara simbolis.


Suhendi, Sekertaris DKM Masjid Jami Kalipasir, mengatakan kegiatan ini rutin digelar setiap tahun sebagai bentuk kecintaan umat kepada Baginda Rasulullah SAW.


"Kegiatan ini memang rutin ya disetiap tahun, setiap Maulid. alhamdulillah dari semalem kita panitia kita intens kita monitor sehingga kegiatan ini berjalan dengan baik," kata Suhendi yang kerap disapa Hendi, saat ditemui di lokasi, pada Selasa (25/8/2026).


"Jadi tahun demi tahun kita ini ada peningkatan, tahun tahun lalu kita bikin perahu 3 sekarang 4, terus jemaah juga meningkat, kekompakan juga terus kita bangun komunikasi sehingga kita terciptalah kekompakan gini," tambahnya.


*Sholawat Menggema Sepanjang Rute*


Sepanjang rute, gema sholawat, takbir, dan tahlil menggema dari atas perahu hingga ke tepian. Warga dari berbagai usia, mulai dari anak-anak hingga lansia, tampak antusias menyaksikan dan ikut berjalan kaki mengiringi.


" Peserta ini didominasi dari warga lokal, tetapi tetangga tetangga ikut serta mulai dari karawaci gabung kekita juga, bahkan dari Kabupaten Tangerang juga ada, karena kita juga kan Tangerang Raya ya yang ikut serta," ucap Suhendi.


Tidak hanya warga Kalipasir, jamaah dari wilayah sekitar Tangerang juga turut hadir. Para pedagang kecil di sepanjang rute juga kebagian rezeki.


*Menjaga Tradisi dan Silaturahmi*


Sementara itu, Menurut RW 04, ada beberapa perahu yang ikut serta dalam arak-arakan tahun ini. Setiap perahu dihias secara swadaya oleh warga.


" Alhamdulillah pada acara hari ini, kebetulan memang saya jadi RW baru 3 minggu ya disini khususnya RW 04. Alhamdulillah dengan adanya kebersamaan ini, semua warga ikut memeriahkan, dan sekaligua melaksanakan hari HUT (Maulid Nabi Muhammad SAW)," ujar H Zezen, Ketua RW 04 Kalipasir, Sukasari, Kota Tangerang, Banten.


Lebih lanjut dirinya menceritakan, dimana dalam sejarah arak arakan perahu disetiap hari Maulid Nabi Muhammad SAW Tersebut berawal hanya dilakukan di wilayah Kalipasir namun saat ini sudah berkembang disetiap tahunnya.


"Tadinya biasanya itu khusus untuk Kalipasir, tapi begitu ini sangat antusias hingga pemerintah juga sampai (ikut serta-red). Semoga kedepannya lebih baik lagi, lebih bagus lagi, dan supaya kita lebih mengenal adanya situs atau sejarah di Jami Kalipasir," pungkasnya


Serangkaian acara tersebut, ditutup dengan doa bersama, tausiyah, membagikan Nasi Uduk untuk masyarakat dan ziarah makam ke para sesepuh yang ada di lingkungan Masjid Jami Kalipasir. Pihak kepolisian dan Satpol PP juga diterjunkan untuk mengamankan jalannya kegiatan.


Peringatan Maulid dengan arak-arakan perahu ini diharapkan menjadi momentum untuk mempererat silaturahmi dan meneladani sifat Rasulullah SAW. (Sn)

Saturday, August 22, 2026

Kisah di Balik Martabak Kubang Hayuda: Legenda Kuliner Minang yang Merambah Nusantara

SERBA-SERBI,korantangsel.com- Di balik renyah dan gurihnya Martabak Kubang Hayuda yang legendaris, ada kisah perjuangan panjang seorang putra Minang bernama H. Yusri Darwis (yang akrab disapa Haji Hayuda), hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu ikon kuliner paling tersohor di Indonesia.

Penerus generasi ke dua sekaligus pengelola Martabak Kubang Haji Hayuda Cabang Jakarta dan Serpong Iwan mengatakan, Martabak Kubang bukan sekedar hidangan, tetapi juga bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Minangkabau yang dikenal luas sebagai “Martabak Mesir” asal Nagari Kubang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

“Di balik kelezatannya, tersimpan sejarah panjang, adaptasi budaya, dan semangat merantau orang Minang yang menjadikan martabak ini dikenal dan merambah hingga nusantara,” katanya.

Iwan mengaku, berbeda dengan martabak biasa. Martabak Kubang memiliki kulit lebih tipis dan renyah, berisi daging sapi cincang yang dimasak dengan bumbu khas Minang, telur serta daun bawang. Tak hanya itu, yang membuatnya unik adalah kuah cuka khas dengan potongan bawang bombai, cabai dan timun sebagai pelengkap yang menyegarkan. Sehingga gabungan antara gurih, manis, dan asam ini menjadikannya favorit lintas generasi.

“Rahasia kelezatan martabak kubang milik Hayuda ini, terletak pada daging rendang untuk isian yang terbuat dari 20 macam rempah.Tak hanya itu, rahasia lainnya yang membuat martabak ini melegenda yakni pada kuah cuka terbaik yang diracik dengan tambahan sari nanas,” ungkapnya.

Akar Budaya dan Asal Usul Martabak Kubang

Secara historis, Martabak Kubang muncul sebagai hasil akulturasi antara budaya Minang dan pengaruh Timur Tengah. Sejak abad ke-19, banyak pedagang dan ulama dari Yaman datang ke wilayah pesisir Sumatra Barat, membawa serta berbagai resep, termasuk martabak daging.

Namun, masyarakat Minang tidak sekadar meniru. Mereka mengolah resep itu dengan rempah-rempah lokal dan teknik masak khas Minang. Inilah yang menciptakan cita rasa otentik Martabak Kubang yang berbeda dari martabak ala Arab atau India.

“Martabak Kubang itu bukan cuma makanan, tapi juga identitas. Kalau orang Minang buka rumah makan, biasanya martabak ini jadi andalan utama,” ungkap Iwan.


Numpang di Toko Hingga Miliki Cabang

Menurut Iwan, kini Martabak Kubang Hayuda bukan sekadar kuliner malam biasa. Melainkan simbol keberhasilan tradisi merantau masyarakat Kubang. Usaha yang dimulai dari menumpang di toko es sederhana milik orang lain, kini telah berkembang menjadi jaringan restoran besar di Padang, Jakarta, dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia.

“Kami memiliki berbagai cabang, salah satunya di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Serpong dan saat ini ikut di Festival Kuliner Serpong (FKS) Summarecon Mall Serpong untuk kesekian kalinya,” tuturnya.

Ia mengaku, animo masyarakat terhadap Martabak Kubang di festival ini cukup tinggi. Apalagi, saat FKS tahun 2012 bertajuk Minang Nan Rancak omset martabak menembus di angka Rp 40 juta per hari.

“Kami berharap, melalui momen FKS ini. Martabak Kubang semakin banyak dikenal, dan masyarakat dapat menikmati rasa otentik dari martabak ini,” tutupnya. (Dini)

 
Copyright © 2014 RANSEL. Designed by OddThemes