SERBA-SERBI,korantangsel.com- Di balik
renyah dan gurihnya Martabak Kubang Hayuda yang legendaris, ada kisah
perjuangan panjang seorang putra Minang bernama H. Yusri Darwis (yang akrab disapa Haji Hayuda), hingga akhirnya berhasil
menjadi salah satu ikon kuliner paling tersohor di Indonesia.
Penerus generasi ke dua sekaligus pengelola Martabak
Kubang Haji Hayuda Cabang Jakarta dan Serpong Iwan mengatakan, Martabak Kubang
bukan sekedar hidangan, tetapi juga bagian dari identitas dan kebanggaan
masyarakat Minangkabau yang dikenal luas sebagai “Martabak Mesir” asal Nagari Kubang, Kecamatan Guguak, Kabupaten
Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.
“Di
balik kelezatannya, tersimpan sejarah panjang, adaptasi budaya, dan semangat
merantau orang Minang yang menjadikan martabak ini dikenal dan merambah hingga
nusantara,” katanya.
Iwan mengaku, berbeda
dengan martabak biasa. Martabak Kubang memiliki kulit lebih tipis dan renyah, berisi
daging sapi cincang yang dimasak dengan bumbu khas Minang, telur serta daun
bawang. Tak hanya itu, yang membuatnya unik adalah kuah cuka khas dengan
potongan bawang bombai, cabai dan timun sebagai pelengkap yang menyegarkan. Sehingga
gabungan antara gurih, manis, dan asam ini menjadikannya favorit lintas
generasi.
“Rahasia
kelezatan martabak kubang milik Hayuda ini, terletak pada daging rendang untuk
isian yang terbuat dari 20 macam rempah.Tak hanya itu, rahasia lainnya yang membuat
martabak ini melegenda yakni pada kuah cuka terbaik yang diracik dengan
tambahan sari nanas,” ungkapnya.
Akar Budaya dan Asal Usul Martabak Kubang
Secara historis,
Martabak Kubang muncul sebagai hasil akulturasi antara budaya Minang dan
pengaruh Timur Tengah. Sejak abad ke-19, banyak pedagang dan ulama dari Yaman
datang ke wilayah pesisir Sumatra Barat, membawa serta berbagai resep, termasuk
martabak daging.
Namun,
masyarakat Minang tidak sekadar meniru. Mereka mengolah resep itu dengan
rempah-rempah lokal dan teknik masak khas Minang. Inilah yang menciptakan cita
rasa otentik Martabak Kubang yang berbeda dari martabak ala Arab atau India.
“Martabak Kubang itu bukan cuma makanan, tapi juga identitas. Kalau
orang Minang buka rumah makan, biasanya martabak ini jadi andalan utama,” ungkap
Iwan.
Numpang di Toko Hingga Miliki Cabang
Menurut Iwan, kini Martabak
Kubang Hayuda bukan sekadar kuliner malam biasa. Melainkan simbol keberhasilan
tradisi merantau masyarakat Kubang. Usaha yang dimulai dari menumpang di toko
es sederhana milik orang lain, kini telah berkembang menjadi jaringan restoran
besar di Padang, Jakarta, dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia.
“Kami memiliki berbagai
cabang, salah satunya di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Serpong dan saat ini
ikut di Festival Kuliner Serpong (FKS) Summarecon Mall Serpong untuk kesekian
kalinya,” tuturnya.
Ia mengaku, animo masyarakat terhadap
Martabak Kubang di festival ini cukup tinggi. Apalagi, saat FKS tahun 2012
bertajuk Minang Nan Rancak omset martabak menembus di angka Rp 40 juta per
hari.
“Kami berharap, melalui momen
FKS ini. Martabak Kubang semakin banyak dikenal, dan masyarakat dapat menikmati
rasa otentik dari martabak ini,” tutupnya. (Dini)




