BREAKING NEWS

Saturday, August 22, 2026

Kisah di Balik Martabak Kubang Hayuda: Legenda Kuliner Minang yang Merambah Nusantara

SERBA-SERBI,korantangsel.com- Di balik renyah dan gurihnya Martabak Kubang Hayuda yang legendaris, ada kisah perjuangan panjang seorang putra Minang bernama H. Yusri Darwis (yang akrab disapa Haji Hayuda), hingga akhirnya berhasil menjadi salah satu ikon kuliner paling tersohor di Indonesia.

Penerus generasi ke dua sekaligus pengelola Martabak Kubang Haji Hayuda Cabang Jakarta dan Serpong Iwan mengatakan, Martabak Kubang bukan sekedar hidangan, tetapi juga bagian dari identitas dan kebanggaan masyarakat Minangkabau yang dikenal luas sebagai “Martabak Mesir” asal Nagari Kubang, Kecamatan Guguak, Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatra Barat.

“Di balik kelezatannya, tersimpan sejarah panjang, adaptasi budaya, dan semangat merantau orang Minang yang menjadikan martabak ini dikenal dan merambah hingga nusantara,” katanya.

Iwan mengaku, berbeda dengan martabak biasa. Martabak Kubang memiliki kulit lebih tipis dan renyah, berisi daging sapi cincang yang dimasak dengan bumbu khas Minang, telur serta daun bawang. Tak hanya itu, yang membuatnya unik adalah kuah cuka khas dengan potongan bawang bombai, cabai dan timun sebagai pelengkap yang menyegarkan. Sehingga gabungan antara gurih, manis, dan asam ini menjadikannya favorit lintas generasi.

“Rahasia kelezatan martabak kubang milik Hayuda ini, terletak pada daging rendang untuk isian yang terbuat dari 20 macam rempah.Tak hanya itu, rahasia lainnya yang membuat martabak ini melegenda yakni pada kuah cuka terbaik yang diracik dengan tambahan sari nanas,” ungkapnya.

Akar Budaya dan Asal Usul Martabak Kubang

Secara historis, Martabak Kubang muncul sebagai hasil akulturasi antara budaya Minang dan pengaruh Timur Tengah. Sejak abad ke-19, banyak pedagang dan ulama dari Yaman datang ke wilayah pesisir Sumatra Barat, membawa serta berbagai resep, termasuk martabak daging.

Namun, masyarakat Minang tidak sekadar meniru. Mereka mengolah resep itu dengan rempah-rempah lokal dan teknik masak khas Minang. Inilah yang menciptakan cita rasa otentik Martabak Kubang yang berbeda dari martabak ala Arab atau India.

“Martabak Kubang itu bukan cuma makanan, tapi juga identitas. Kalau orang Minang buka rumah makan, biasanya martabak ini jadi andalan utama,” ungkap Iwan.


Numpang di Toko Hingga Miliki Cabang

Menurut Iwan, kini Martabak Kubang Hayuda bukan sekadar kuliner malam biasa. Melainkan simbol keberhasilan tradisi merantau masyarakat Kubang. Usaha yang dimulai dari menumpang di toko es sederhana milik orang lain, kini telah berkembang menjadi jaringan restoran besar di Padang, Jakarta, dan berbagai kota besar lainnya di Indonesia.

“Kami memiliki berbagai cabang, salah satunya di Jakarta Timur, Jakarta Selatan, Serpong dan saat ini ikut di Festival Kuliner Serpong (FKS) Summarecon Mall Serpong untuk kesekian kalinya,” tuturnya.

Ia mengaku, animo masyarakat terhadap Martabak Kubang di festival ini cukup tinggi. Apalagi, saat FKS tahun 2012 bertajuk Minang Nan Rancak omset martabak menembus di angka Rp 40 juta per hari.

“Kami berharap, melalui momen FKS ini. Martabak Kubang semakin banyak dikenal, dan masyarakat dapat menikmati rasa otentik dari martabak ini,” tutupnya. (Dini)

Share this:

 
Copyright © 2014 RANSEL. Designed by OddThemes