NASIONAL, korantangsel.com – (Kota Tangerang) Kematian Raymond Wirya Arifin (19) yang ditemukan di Sungai Cisadane hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Di tengah dugaan sementara bunuh diri, keluarga korban menyoroti temuan luka lebam pada tubuh Raymond yang dinilai janggal.
Kuasa hukum keluarga dari LBH IPTI, Samatha Putra,
menyampaikan hal tersebut usai bertemu dengan penyidik Polsek Karawaci pada
Selasa malam (30/12/2025). Pertemuan dilakukan setelah kedua orang tua korban
menjalani pemeriksaan lanjutan oleh penyidik.
Menurut Samatha, pemeriksaan difokuskan pada pendalaman
aktivitas Raymond pada 16, 17, dan 18 Juli 2025. Ayah dan ibu korban
masing-masing menerima sekitar 12 pertanyaan untuk memperkuat kronologi sebelum
korban ditemukan meninggal dunia.
“Hari ini ada tambahan pemeriksaan dari orang tua korban,
almarhum Raymond Wirya Arifin. Ada sekitar 12 pertanyaan yang ditanyakan kepada
ibunya maupun ayahnya, terkait aktivitas Raymond pada tanggal 16, 17, dan 18,”
ujar Samatha Putra.
Terkait dugaan sementara kepolisian yang mengarah pada bunuh
diri, Samatha menyebut kesimpulan tersebut masih bertumpu pada hasil forensik.
Namun, pihak keluarga meminta penyidik tidak mengesampingkan temuan lain dalam
hasil otopsi.
“Kalau dari hasil forensik memang dikatakan penyebab
kematiannya tenggelam karena ditemukan air di paru-paru. Tapi kami minta agar
ini tetap didalami lagi,” katanya.
Ia menjelaskan, keluarga menyoroti adanya resapan darah di
kepala, leher, dan bahu korban yang diduga akibat hantaman benda tumpul. Temuan
tersebut dinilai penting dan perlu dikaji lebih dalam oleh penyidik.
“Dokter forensik menyampaikan adanya resapan darah di
kepala, leher, dan bahu, yang diduga akibat hantaman benda tumpul. Itu yang
kami minta kepada penyidik untuk benar-benar didalami,” jelasnya.
Selain itu, Samatha menyebut pihak keluarga telah
menyerahkan sejumlah petunjuk dan informasi tambahan kepada kepolisian. Ia
menilai masih ada pihak di luar keluarga yang perlu diperiksa untuk memperjelas
peristiwa tersebut.
“Ada beberapa petunjuk dan informasi yang kami dapatkan dan
sudah kami serahkan ke penyidik. Masih ada pihak di luar keluarga yang belum
diperiksa,” ujarnya.
Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Karawaci, AKP Riono,
menegaskan bahwa hingga saat ini kesimpulan kepolisian masih bersifat dugaan.
Ia menyatakan penyelidikan masih berjalan dan belum dapat disimpulkan secara
pasti.
“Ya baru diduga ya, diduga keras korban bunuh diri. Korban
juga enggak punya musuh, enggak punya apa-apa, masih dugaan,” kata AKP Riono.
AKP Riono juga menjelaskan bahwa penyidik masih menelusuri
barang-barang milik korban. Laptop Raymond yang sempat dikira hilang ternyata
berada di rumah, sementara handphone korban masih dalam pencarian.
“Laptop katanya hilang ternyata ada di rumah. Sekarang kita
nyari handphone, kemungkinan ada di kali, di Kali Cisadane,” ucapnya.
Menurutnya, penyidik masih membutuhkan alat bukti tambahan
untuk memastikan penyebab kematian korban. Meski dugaan sementara mengarah pada
bunuh diri, proses penyelidikan tetap dilakukan sesuai prosedur.
“Enggak bisa langsung nyimpulin A1. Harus proses dulu, cari
bukti-bukti yang lain,” tutupnya.
Pihak keluarga melalui kuasa hukumnya menegaskan masih
meyakini adanya dugaan penganiayaan terhadap Raymond. Pemeriksaan lanjutan
dijadwalkan kembali pada awal Januari 2026 seiring pengembangan penyidikan oleh
Polsek Karawaci. (korantangsel.com – mega)
q




