BREAKING NEWS

Friday, January 2, 2026

Di Balik Dugaan Bunuh Diri, Luka Lebam Raymond Disorot dan Picu Kejanggalan Keluarga


NASIONAL, korantangsel.com – (Kota Tangerang) Kematian Raymond Wirya Arifin (19) yang ditemukan di Sungai Cisadane hingga kini masih menyisakan tanda tanya. Di tengah dugaan sementara bunuh diri, keluarga korban menyoroti temuan luka lebam pada tubuh Raymond yang dinilai janggal.

Kuasa hukum keluarga dari LBH IPTI, Samatha Putra, menyampaikan hal tersebut usai bertemu dengan penyidik Polsek Karawaci pada Selasa malam (30/12/2025). Pertemuan dilakukan setelah kedua orang tua korban menjalani pemeriksaan lanjutan oleh penyidik.

Menurut Samatha, pemeriksaan difokuskan pada pendalaman aktivitas Raymond pada 16, 17, dan 18 Juli 2025. Ayah dan ibu korban masing-masing menerima sekitar 12 pertanyaan untuk memperkuat kronologi sebelum korban ditemukan meninggal dunia.

“Hari ini ada tambahan pemeriksaan dari orang tua korban, almarhum Raymond Wirya Arifin. Ada sekitar 12 pertanyaan yang ditanyakan kepada ibunya maupun ayahnya, terkait aktivitas Raymond pada tanggal 16, 17, dan 18,” ujar Samatha Putra.

Terkait dugaan sementara kepolisian yang mengarah pada bunuh diri, Samatha menyebut kesimpulan tersebut masih bertumpu pada hasil forensik. Namun, pihak keluarga meminta penyidik tidak mengesampingkan temuan lain dalam hasil otopsi.

“Kalau dari hasil forensik memang dikatakan penyebab kematiannya tenggelam karena ditemukan air di paru-paru. Tapi kami minta agar ini tetap didalami lagi,” katanya.

Ia menjelaskan, keluarga menyoroti adanya resapan darah di kepala, leher, dan bahu korban yang diduga akibat hantaman benda tumpul. Temuan tersebut dinilai penting dan perlu dikaji lebih dalam oleh penyidik.

“Dokter forensik menyampaikan adanya resapan darah di kepala, leher, dan bahu, yang diduga akibat hantaman benda tumpul. Itu yang kami minta kepada penyidik untuk benar-benar didalami,” jelasnya.

Selain itu, Samatha menyebut pihak keluarga telah menyerahkan sejumlah petunjuk dan informasi tambahan kepada kepolisian. Ia menilai masih ada pihak di luar keluarga yang perlu diperiksa untuk memperjelas peristiwa tersebut.

“Ada beberapa petunjuk dan informasi yang kami dapatkan dan sudah kami serahkan ke penyidik. Masih ada pihak di luar keluarga yang belum diperiksa,” ujarnya.

Sementara itu, Kanit Reskrim Polsek Karawaci, AKP Riono, menegaskan bahwa hingga saat ini kesimpulan kepolisian masih bersifat dugaan. Ia menyatakan penyelidikan masih berjalan dan belum dapat disimpulkan secara pasti.

“Ya baru diduga ya, diduga keras korban bunuh diri. Korban juga enggak punya musuh, enggak punya apa-apa, masih dugaan,” kata AKP Riono.

AKP Riono juga menjelaskan bahwa penyidik masih menelusuri barang-barang milik korban. Laptop Raymond yang sempat dikira hilang ternyata berada di rumah, sementara handphone korban masih dalam pencarian.

“Laptop katanya hilang ternyata ada di rumah. Sekarang kita nyari handphone, kemungkinan ada di kali, di Kali Cisadane,” ucapnya.

Menurutnya, penyidik masih membutuhkan alat bukti tambahan untuk memastikan penyebab kematian korban. Meski dugaan sementara mengarah pada bunuh diri, proses penyelidikan tetap dilakukan sesuai prosedur.

“Enggak bisa langsung nyimpulin A1. Harus proses dulu, cari bukti-bukti yang lain,” tutupnya.

Pihak keluarga melalui kuasa hukumnya menegaskan masih meyakini adanya dugaan penganiayaan terhadap Raymond. Pemeriksaan lanjutan dijadwalkan kembali pada awal Januari 2026 seiring pengembangan penyidikan oleh Polsek Karawaci. (korantangsel.com – mega)




    q








Share this:

 
Copyright © 2014 RANSEL. Designed by OddThemes